Thursday, July 19, 2018

SYUMULIYATUL ISLAM

Oleh Wahyu B henti Prasojo Pendahuluan Syumuliyatul Islam berarti kesempurnaan Islam. Syumuliyah mengandung arti lengkap, sempurna, universal dan integral. Artinya, ajaran agama ini mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia; dari pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara; dari sosial, ekonomi, politik, hukum, keamanan, lingkungan, pendidikan hingga  kebudayaan; seluruh etnis manusia, dari kepercayaan, sistim hingga akhlak; dari Adam hingga manusia terakhir; dari sejak kita bangun tidur hingga kita tidur kembali; dari kehidupan dunia hingga kehidupan akhirat. Islam adalah agama rahmatan lila’lamin, agama yang tak hanya menjadi rahmat bagi para pemeluknya tersendiri, namun juga pemeluk agama lain. وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدًا عَلَيۡهِم مِّنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَجِئۡنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ ٨٩ (Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS An Nahl (16):89). Jadi sumber risalah agama ini adalah datang dari Allah yang menginginkan petunjuk dan cahaya bagi hamba-hambaNya dalam menjalani hidup keseharian mereka sampai saat kembalinya tiba. Karena dalam agama Islam, ibadah itu mencakup keseluruhan kegiatan manusia dalam hidup di dunia ini, termasuk kegiatan yang sifatnya duniawi. Jika kegiatan itu dilakukan dengan sikap bathin yang berniat menghamba hanya kepada Allah saja. Secara rinci, Hasan Al Banna menguraikan Islam sebagai; negara dan tanah air atau pemerintahan dan ummat, moral dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan, wawasan dan undang-undang atau ilmu pengetahuan dan hukum, materi dan kekayaan alam atau penghasilan dan kekayaan, serta jihad dan dakwah atau pasukan dan pemikiran. Sebagaimana juga ia adalah aqidah yang murni dan ibadah yang benar. A. Risalah Seluruh Zaman رسالة الزمن كله Islam telah diturunkan Allah swt sejak Nabi Adam hingga mata rantai kenabian ditutup pada masa Rasulullah Muhammad saw. Islam bukanlah ajaran yang diturunkan untuk generasi tertentu, atau zaman tertentu, yang berakhir pengaruhnya dengan wafatnya nabi yang membawanya, seperti yang terjadi pada risalah sebelumnya. Bahkan Islam bukan agama yang hanya diturunkan untuk masa hidup Rasulullah Muhammad saw, tapi untuk masa hidup seluruh umat manusia di muka bumi : وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ وَمَن يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡ‍ٔٗاۗ وَسَيَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ ١٤٤ “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS: Ali Imran (3): 144) B. Risalah Seluruh Alam رسالة العالم كله Ajaran Islam diturunkan untuk diterapkan di seluruh penjuru bumi. Ia tidak dapat dilekatkan pada nama tempat atau bangsa, atau suku atau strata social. Maka Islam tidak dapat diidentikkan dengan kawasan Arab (Arabisme), karena itu hanya tempat lahirnya. Islam tidak mengenal sekat-sekat tanah air, sama seperti ia tidak mengenal batasan-batasan etnis. Tidak juga batasan geografis dan iklim. إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ٢٧ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ٢٨ “Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus”. (QS: At Takwir (81): 27-28) وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧ “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.  (QS: Al Anbiya (21): 107) يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣ “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya  Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS: Al Hujurat (49): 13) وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٨ “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada seluruh umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS: Saba (34): 28) C. Risalah Manusia secara keseluruhan رسالة الإنسان كله 1. Islam adalah petunjuk yang sesuai untuk totalitas kesempurnaan manusia Islam adalah  risalah bagi manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluq yang sempurna. Islam diturunkan untuk manusia dengan seluruh sifat-sifat kemanusiannya. Ia bukanlah risalah untuk akal tanpa ruh, atau untuk ruh tanpa jasad, atau untuk pemikiran tanpa hati nurani. Ia adalah risalah bagi manusia, bagi ruhnya, akalnya, jasadnya, perasaannya, kehendaknya, eksistensinya. Islam tidak mengarahkan manusia dengan dua tujuan yang berbeda, sebagaimana yang diketahui dari agama-agama dan konsep hidup lain, yang memisahkan urusan dunia dan akhirat. Cara pandang seperti itu niscaya akan membuat manusia terpecah-pecah kepribadiannya. ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا رَّجُلٗا فِيهِ شُرَكَآءُ مُتَشَٰكِسُونَ وَرَجُلٗا سَلَمٗا لِّرَجُلٍ هَلۡ يَسۡتَوِيَانِ مَثَلًاۚ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٩ Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. ( Az Zumar (39) :29) Islam sebagai risalah untuk manusia, mengatur dan mengarahkan akal, ruh, fisik, kemauan dan naluri maupun instink. Karenanya tidak ada pemisahan dalam mengatur dan mengarahkan  potensi yang dimiliki manusia, karena manusia merupakan makhluq Allah  yang sempurna dan satu eksistensinya, dimana ruhnya tidak berpisah dari materi dan materinya tidak berpisah dari akalnya. 2. Risalah bagi Manusia dalam seluruh tahapan hidupnya Islam juga adalah risalah untuk keseluruhan tahapan hidup manusia dan keberadaanya. Risalah Islam adalah hidayah Allah yang senantiasa menyertai manusia kemanapun menghadap dan berjalan dalam perkembangan-perkembangan hidupnya. Islam menyertai manusia semenjak masih bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa dan sampai masa tua. Dalam semua periode ini, Islam telah menetapkan bagi manusia manhaj terbaik yang dicintai dan di ridhai oleh Allah. Maka dalam Islam akan kita temui tuntunan yang berkaitan dengan janin sampai kelahiran, pemeliharaan anak-anak, masa remaja, tanggung jawab orang-orang tua bahkan hokum-hukum setelah kematian seseorang. Contoh dalam Al Qur’an: ۞وَٱلۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِۖ لِمَنۡ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَۚ وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَا تُضَآرَّ وَٰلِدَةُۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوۡلُودٞ لَّهُۥ بِوَلَدِهِۦۚ وَعَلَى ٱلۡوَارِثِ مِثۡلُ ذَٰلِكَۗ فَإِنۡ أَرَادَا فِصَالًا عَن تَرَاضٖ مِّنۡهُمَا وَتَشَاوُرٖ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَاۗ وَإِنۡ أَرَدتُّمۡ أَن تَسۡتَرۡضِعُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُمۡ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ إِذَا سَلَّمۡتُم مَّآ ءَاتَيۡتُم بِٱلۡمَعۡرُوفِۗ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ٢٣٣ Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS.Al Baqarah (2):233). Bahkan lebih dari itu, syari’at Islam menaruh kepedulian kepada manusia semenjak belum lahir sampai setelah meninggal dunia. 3. Risalah bagi Manusia dalam semua segi kehidupan Diantara dimensi (makna) syumul dalam Islam adalah bahwa Islam merupakan risalah bagi manusia pada semua sektor kehidupan dan segala aktifitas kemanusiaannya. Maka Islam tidak pernah meninggalkan satu aspekpun dari aspek-aspek kehidupan manusia kecuali dia mempunyai sikap didalamnya. Aqidah Islam telah menjawab seluruh pertanyaan manusia tentang alam semesta, manusia, kehidupan, dan menetapkan bahwa semuanya itu adalah makhluk. Pada intinya adalah Islam tidak akan membiarkan manusia berjalan sendiri tanpa hidayah dari Allah. Kemanapun dia melangkah  dan dalam aktifitas apapun  dia lakukan, apakah itu yang bersifat materiil ataupun spiritual, individu atau sosial, gagasan atau operasional, keagamaan atau politis. Islam membawa ajaran-ajaran yang terkait dengan seluruh dimensi kehidupan manusia; sosial, ekonomi, politik, hukum, keamanan, pendidikan, lingkungan dan kebudayaan. Ini pula yang dimaksud Allah swt bahwa Ia telah menyempurnakan agama ini dan karena itu meridhoinya sebagai agama terbaik bagi umat manusia : ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ فِي مَخۡمَصَةٍ غَيۡرَ مُتَجَانِفٖ لِّإِثۡمٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣ “…hari ini telah Ku-sempurnakan bagimu agamamu, dan Ku-sempurnakan nikmat-Ku terhadapmu, dan Kuridhai Islam sebagai agamamu.” (QS: Al Maa’idah (5): 3) Jika Islam diibaratkan sebuah bangunan, maka bangunan tersebut membutuhkan fondasi, tiang-tiang, dinding (termasuk pintu, jendela dan ventilasi), atap, serta pagar. Fondasi Islam adalah aqidah yang lurus. Tiang-tiangnya adalah ibadah yang benar. Dindingnya adalah syari’at dan manhaj. Atapnya adalah akhlaqul karimah. Sedangkan pagarnya adalah da’wah dan jihad. Penutup Beragama merupakan hal yang fitri pada diri manusia. Perwujudan dari naluri beragama ini adalah kenyatan bahwa dirinya penuh kelemahan, kekurangan, dan serba membutuhkan terhadap sesuatu yang lain. Kemudian aqidah Islam hadir untuk memberikan pemenuhan terjadap naluri beragama yang ada pada diri manusia, dan membimbing manusia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Karena agama sesungguhnya adalah untuk kepentingan manusia, bukan untuk melayani kebutuhan Tuhan. Tuntutan Allah kepada manusia agar patuh kepadaNya adalah demi kesejahteraan dan kebaikan manusia itu sendiri. Allah tidak memerlukan apapun dari manusia. Zakat yang dibayarkan manusia adalah untuk kepentingan manusia, Allah tidak memerlukan semacam pajak dari manusia. Atau memakan daging hewan qurban yang disembelih manusia. Mahasuci Allah, Dia tidak membutuhkan apapun, melainkan manusialah yang membutuhkanNya. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٢٠٨ “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syetan. Sungguh, ia musuh nyata bagimu” (Q.S. Al Baqarah (2):208) Maka Allah mengutus para nabi membawa petunjuk agama, agar manusia terbebas dari belenggu setan, terbebas dari belenggu hawa nafsunya sehingga tidak terjatuh menjadi hina di hadapan benda-benda dunia yang fana. Ajaran-ajaran agama adalah petunjuk jalan bagi kehidupan manusia, agar tidak tersesat, dan hidup menjadi teratur.

Tuesday, July 17, 2018

*Komitmen dengan Dakwah dan Jama'ah Kaum Muslimin* Wahyu B Prasojo 1. Berjama'ah adalah Kewajiban Mengikat Berjama'ah adalah salah satu bentuk keta'atan kita kepada Allah dan Rasul. _“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung."_ (QS : Ali Imran:104) “عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ ، وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ” رواه الترمذي _"Berpegang-teguhlah pada kelompok kaum muslimin dan jauhilah perpecahan, karena sesungguhnya setan itu  menyertai orang yang sendirian, sedangkan pada dua orang ia lebih jauh.”_ (HR. At-Tirmidzi). إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي – أَوْ قَالَ: أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى ضَلَالَةٍ، وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ _"Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku -atau Beliau bersabda: umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam– di atas kesesatan, dan tangan Allah bersama jamaah, dan barang siapa yang menyempal maka dia menyempal menuju neraka."_ (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim). مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً _“Siapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya, hendaknya bersabar karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang keluar dari (ketaatan) kepada pemimpinnya, walaupun sejengkal kemudian mati melainkan mati dalam keadaan mati jahiliah.”_ (HR. Muslim). Imam Ali radhiyallahu 'anhu berkata: _"Keruhnya Jama'ah lebih baik dari pada jernihnya perpecahan."_ (Al-Bayan Wattabyin karya Al-Jahizh, 1/218). 2. Nikmat Agung dan Manfaat yang Banyak Allah menyebut orang-orang yang berkumpul dalam sebuah jama'ah dakwah sebagai umat terbaik. _"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”_ (QS. Ali Imron: 110). Di antara manfaat berjama'ah adalah: _"Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.”_ (Al ‘Ashr: 1-3). 3. Iltizam dengan jama'ah dakwah adalah urusan Allah. ﴿وَلَولا أَن ثَبَّتناكَ لَقَد كِدتَ تَركَنُ إِلَيهِم شَيئًا قَليلًا﴾ [الإسراء: ٧٤]. "Andai Kami tidak meneguhkanmu (wahai Muhammad), sungguh engkau hampir-hampir saja akan sedikit condong pada mereka (orang-orang yang sesat itu)" [QS. Al-Israa':74]. Berkaitan dengan ayat ini, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, menyebutkan لعل انتكاسته من أمرين : إما أنه لم يسأل الله الثبات ، أو أنه لم يشكر الله على الإستقامة bahwa boleh jadi penyebab seseorang menyimpang karena dua perkara: 1. mungkin ia tidak pernah meminta kepada Allah agar diteguhkan (diatas al-Haqq), 2. mungkin dia tidak bersyukur pada Allah atas keistiqamahan (yang telah dikaruniakan padanya), Selanjutnya beliau memperingatkan: Maka tatkala Allah memilihmu berjalan diatas jalan hidayahNya, camkanlah bahwa itu bukan karena keistimewaan atau ketaatanmu, melainkan itu adalah rahmat dariNya yang meliputimu, yang bisa saja ia mencabutnya darimu dalam sekejap, Maka janganlah kau tertipu dengan amalanmu, ataupun dengan ibadahmu, dan janganlah kau melihat kelemahan orang-orang yang tersesat dari jalanNya, Kalau bukan karena rahmat Allah padamu, niscaya engkau berada pada posisinya. Jangan pernah kau mengira bahwa keteguhan atas keistiqamahan itu adalah salah satu jerih payahmu seorang.. Perhatikan firman Allah pada pemimpin segenap manusia: "Kalau bukan Kami yang meneguhkanmu (wahai Muhammad)", lalu bagaimana denganmu!!?..." "Katakanlah, karena mendapat karunia dan rahmat Allah mereka harus bergembira. Itulah yang lebih baik dari apa-apa yang telah mereka kumpulkan (QS.Yunus:58). Hendaknya jangan sampai ketaatanmu membuatmu merasa senang karena engkau merasa telah mampu melaksanakannya, tetapi berbahagialah atas perbuatan taat itu karena engkau telah dianugrahi Allah kemampuan untuk melaksanakannya.(Ibnu Atha'illah). Komitmen kepada jalan dakwah tidak ada kaitannya dengan keturunan, keilmuan, atau senioritas seseorang. _"Dan mereka tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka."_ (QS. Asyura:14). Tetapi hanya Allah yang menentukan siapa bertahan, siapa gugur. Maka harus selalu berusaha menjaga keikhlasan. Karena hanya Allah yang sebenar-benarnya bisa diandalkan untuk bisa bertahan di jalan dakwah. مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً. _"Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat.” Lalu beliau membaca (ayat): “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja.”_ (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). ~~~ يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك Ya Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami diatas agamaMu آمين يارب العالمين