Tuesday, November 14, 2017

Batalyon[1] Malaikat di Pertempuran Badar


oleh Wahyu Bhekti Prasojo

Beberapa saat menjelang pertempuran di Badar, Rasulullah berdiri di hadapan pasukannya untuk mengatur barisan. Setelah melihat perbandingan jumlah pasukannya dengan pasukan Quraisy, Nabi saw kembali ke kemahnya, kemudian menghadapkan wajahnya kearah kiblat dan dengan seluruh jiwanya beliau menyeru mengharap kepada Allah. Tenggelam dalam do’anya beliau berbisik:
“Yaa Allah, saat ini Quraisy telah datang dengan segala keangkuhan. Mereka berusaha mendustakan RasulMu. Yaa Allah, aku memohon pertolongan yang telah engkau janjikan kepadaku. Yaa Allah, jika hancur pasukan(ku) ini maka setelah itu tidak ada lagi yang akan beribadah kepadaMu.”[2]
Maka Allah mengabulkan permohonan RasulNya dengan mengirimkan bala tentara Malaikat untuk berperang bersama kaum muslimin.
Peristiwa ini diceritakan dalam AlQur’an surat Al anfal ayat ke 9 dan 10. Allah Ta'ala berfirman:
إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ ٩ وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ إِلَّا بُشۡرَىٰ وَلِتَطۡمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمۡۚ وَمَا ٱلنَّصۡرُ إِلَّا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ١٠
“(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut". Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal: 9-10)
Umar Ibnul Khaththab ra. mengisahkan situasi menjelang pertempuran dalam sebuah riwayat yang disampaikan Imam Ahmad, sebagai berikut:
“Pada hari perang Badar, Nabi saw. memandang kepada para sahabatnya dan mereka terdiri dari tiga ratus orang lebih, memandang kepada orang-orang musyrik, ternyata mereka lebih dari seribu orang, maka Nabi menghadap kiblat dan beliau memakai selendang dan sarung, kemudian beliau bersabda: “Ya Allah, penuhilah apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika kelompok ini binasa, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di bumi.”
“Rasulullah terus-menerus memohon pertolongan kepada Rabbnya dan berdo’a kepada-Nya hingga selendangnya terjatuh dari pundaknya, maka Abu Bakar mengambil selendang itu, lalu memakaikannya kepada Nabi dan mendekapnya dari belakang, lalu berkata: “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu, lalu Allah menurunkan firman-Nya: Idz tastaghitsuuna rabbakum fastajaaba lakum annii mumiddukum bi-alfim minal malaa-ikati murdifiin (“[Ingatlah] ketika kamil memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu Malaikat yang datang bertutut-turut.’)[3]
Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam berdo’a ketika perang badar:
اللهُمَّ أَنْشُدُكَ عَهْدَكَ وَوَعْدَكَ، اللهُمَّ! إِنْ شِئْتَ لَمْ تُعْبَدْ[4]
“Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu penuhilah janji-Mu. Ya Allah, jika engkau menghendaki, maka Engkau tidak diibadahi lagi.”
Kaum muslimin mendengar munajat Rasulullah itu, kemudian mulai juga bermunajat:
يا غياث المغيث أغِثنَا وَانصُرنَا علىَ عَدُوكَ
“Wahai Tuhan penyuluh keselamatan, selamatkanlah kami dan menangkan kami atas musuhMu.”[5]
Allah mengabulkan do’a mereka dan Dia turunkan ribuan malaikat untuk membantu mereka mengalahkan musuh. Setelah bernunajat, Rasulullah tertidur sejenak, kemudian mengangkat kepalanya seraya berkata: “Hai Abu Bakar, bergembiralah, petolongan Allah telah datang kepadamu. Itu Jibril di bawah hamburan debu.” Dalam riwayat Ibnu Ishaq; “Itulah Jibril memegang tali kekang kudanya di atas hamburan debu.”[6]
Kemudian beliau bangkit menuju musuh seraya membacakan Ayat :
سَيُهْزَمُ الجَمْعُ وَيُوَلُّوْنَ الدُّبُرَ “
Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. (AlQomar 45).[7]
            Kemudian beliau mengambil segengggam pasir dan melemparkannya kea rah pasukan Quraisy sambil berkata, “Hancurlah wajah mereka”. Tidak seorangpun dari mereka kecuali terkana lemparan tersebut pada mata, hidung dan mulutnya.[8]

Ali bin Abu Thalib berkata, Jibril turun bersama 1000 malaikat dan bergabng dengan sayap kanan pasukan Rasulullah di mana Abu Bakar berada, dan Mikail turun dengan 1000 malaikat dan bergabung dengan sayap kiri pasukan di mana aku berada.[9]
Bersama Jibril itu ada seribu Malaikat yang datang berturut-turut. Yakni datang dengan silih berganti, sebagaimana yang dikatakan oleh Harun bin Hubairah dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma مُرْدِفِيْنَ yaitu mutatabi’in’ (silih berganti atau susul menyusul atau terus berkelanjutan tanpa terputus). Maksudnya, sebagian mereka berada di belakang sebagian lainnya. Mungkin juga yang dimaksud murdifiin adalah mereka berada belakang kalian, maksudnya, sebagai bantuan kepada kalian.[10] Sementara Mubarakfury mengartikannya sebagai datang secara silih berganti, tidak sekaligus.[11]
 Menurut Mustafa AsSiba’iy, pada peperangan inilah turun ayat 123 sampai 127 surat Ali Imran.[12]
ولقد نصركم الله ببدر وأنتم أذلة فاتقوا الله لعلكم تشكرون إذ تقول للمؤمنين ألن يكفيكم أن يمدكم ربكم بثلاثة آلاف من الملآئكة منزلين بلى إن تصبروا وتتقوا ويأتوكم من فورهم هذا يمددكم ربكم بخمسة آلاف من الملآئكة مسومين وما جعله الله إلا بشرى لكم ولتطمئن قلوبكم به وما النصر إلا من عند الله العزيز الحكيم ليقطع طرفا من الذين كفروا أو يكبتهم فينقلبوا خآئبين
Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Allah menolong kamu dalam perang Badar dan memberi bala bantuan itu) untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa.
            Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dengan demikian jumlah malaikat yang diturunkan Allah pada peperangan ini bukanlah hanya seribu, melainkan susul menyusul -- sebagaimana yang difahami dari surat Ali Imran di atas-- sehingga mencapai jumah 5000 tentara.[13]
Abu Ja’far athThabari mengisahkan “Tatkala seseorang dari kaum muslimin sedang bersungguh-sungguh (melawan) orang musyrik yang ada dihadapannya, tiba-tiba ia mendengar suara lecutan cambuk di atasnya dan suara penunggang kuda yang berkata: ‘Majulah haizum,’ tiba-tiba ia melihat lawannya telah mati terkapar dihadapannya. Kemudian ia melihatnya dari dekat, ternyata hidungnya telah terpukul dan wajahnya terbelah, seperti pukulan cambuk, mukanya menjadi lebam (bekas pukulan), padahal ia yakin ayunan pedangnya belum menganai sasarannya.[14]            
Maka pada hari di saat mereka berhadapan, Allah mengalahkan orang-orang musyrik. Pasukan kecil dari Madinah itu bertarung dengan hebat tanpa rasa takut. Pasukan Quraisy yang besar itu porak poranda. Di antara mereka ada 70 orang yang terbunuh dan 70 orang tertawan. Mayoritas yang tewas adalah dari kalagan pembesar Quraisy.[15]
Pelajaran dan Hikmah:
1. Do’a Nabi saw dan para sahabat itu disebutkan dengan kata tastagitsuuna bukan tad’uuna. Mengandung  makna bahwa permohonan kaum muslimin itu adalah sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan, karena ketidaksiapan mereka sebelumnya.  Di mana terkumpul factor-faktor kekalahan pada mereka; jumlah yang sedikit, minimnya persenjataan, kelemahan mental, semangat dan ketidaksiapan jiwa.[16]
Pertanyaannya, apakah Nabi saw khawatir akan kalah?
Mustahil Nabi saw khawatir kalah, karena dua alasan; yang pertama karena Allah telah menjanjikan kemenangan kepada beliau. Bagaimana mungkin seorang Rasul Allah meragukan janji Tuhannya?[17] Yang kedua, Nabi saw telah mendapat informasi keadaan pasukan Quraisy. Yaitu ketika beliau bertemu dengan seorang lelaki badawi tua dalam penyelidikan beliau di sekitar jalur itu.[18] Juga ketika beliau menginterogasi dua orang budak Quraisy yang ditangkap oleh Ali bin Abi Thalib, Zubayr bin Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqqash.[19] Panglima perang biasanya khawatir jika ia tidak mengetahui sama sekali keadaan lawannya. Tetapi dengan mengetahuinya, ia dapat mempersiapkan strategi yang tepat.
2. Banyak riwayat menerangkan tentang turunnya malaikat ini telah berperang dalam barisan kaum muslimin melawan tentara Quraisy. Mereka ikut menyerang lawan dengan senjata-senjata mereka. Begitu banyak riwayat sehingga sulit kita untuk membantahnya.
Meskipun demikian tujuan yang disebutkan Al Qur’a dalam pengiriman para Malaikat dan memberitahukannya kepada kaum muslimin adalah sebagai kabar gembira dan agar hati kaum muslimin menjadi tenang. Sebagian ahli berpendapat bahwa para malaikat turun sebagai pembangkit semangat juang kaum muslimin.[20]
Sebab jika bukan itu tujuannya, maka Alloh Ta’ala maha berkuasa untuk menenangkan kalian atas mereka tanpa pengiriman malaikat. Maka orang-orang beriman harus sadar, bahwa adakah pertolongan malaikat atau tidak, besar-kecilnya jumlah pasukan, lengkap-tidaknya persenjataan, sama sekali tak berpengaruh jika Allah telah berkehendak. Adapun memenuhi syarat-syarat kemenangan adaah wajib sifatnya. Karena Allah bermaksud menguji orang-orang beriman. Oleh karenanya Alloh SWT berfirman: “Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah.” [21]
Hal ini sebagaimana Firman-Nya dalam surat lain:
فإذا لقيتم الذين كفروا فضرب الرقاب حتى إذا أثخنتموهم فشدوا الوثاق فإما منا بعد وإما فداء حتى تضع الحرب أوزارها ذلك ولو يشاء الله لانتصر منهم ولكن ليبلو بعضكم ببعض والذين قتلوا في سبيل الله فلن يضل أعمالهم
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Alloh menghendaki niscaya Alloh akan membinasakan mereka tetapi Alloh hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Alloh, Alloh tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.” (Muhammad: 4)
ولنبلونكم حتى نعلم المجاهدين منكم والصابرين ونبلو أخباركم
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (Muhammad:31)
Dengan demikian Allah menambahkan keteguhan dan keikhlasan hati kaum muslimin dalam perang. Bahwa pertolongan dan kemenangan bukanlah dampak dari kuatnya persenjataan dan usaha mereka melainkan dari Allah.
3. Sikap Rasulullah dalam bermunajat adalah adab yang benar dan disunnahkan bagi siapa saja yang berdo’a kepada Allah, yaitu sikap pertengahan antara khauf (rasa takut) dan roja’ (penuh harap). Rasulullah tentu sangat yakin akan pertolongan Allah, tetapi adab kehalusan budinya kepada Tuhannya, mengharuskannya merendahkan dirinya di hadapanNya. Di samping itu, keyakinannya bahwa pertolongan memang hanya akan datang dari sisi Allah, tidak dari yang lainnya. Sebagaimana salah satu potongan dari doa’ beliau, “Wahai Tuhan yang Mahahidup, wahai Tuhan yang Berdiri sendiri”, yang beliau ulang-ulang sampai datang waktu pagi.[22]
ادعوا ربكم تضرعا وخفية إنه لا يحب المعتدين
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(Al A’raf 55)
فاستجبنا له ووهبنا له يحيى وأصلحنا له زوجه إنهم كانوا يسارعون في الخيرات ويدعوننا رغبا ورهبا وكانوا لنا خاشعين
Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.(Al Anbiya 90)
4. Adalah penting menyiapkan pasukan sebelum pertempuran. Sebagaimana Rasulullah mengatur barisan tentaranya. Kegiatan ini melatih dan menjaga kedisplinan dan kesiapsiagaan. Di samping itu, briefing bisanya diakukan pada kesempatan ini, untuk memeriksa dan memastikan setiap anggota atau regu mengingat tugasnya masing-masing.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah sempat mengulang tentang kapan waktunya pasukan panah melepas  anak panah mereka dan sebagainya. Rasulullah juga sempat mengetuk Sawad bin Ghaziyah dengan tongkat, karena ia mengobrol dengan kawannya dalam briefing tersebut.[23]
Briefing juga digunakan untuk memompa semangat pasukan, sebagaimana Rasulullah mengatakan “Ingatlah bahwa surga berada di bawah kilatan pedang”. Beliau bahkan menunjukkan okasi-lokasi di mana tokoh-tokoh Quraisy akan terbunuh dalam pertempura itu.[24]
Wallahu a’lam bishshawwab.

Daftar Pustaka
Al Bukhary, Muhammad bin Ismail, Shahih Bukhary, Dar at Thuruq an Najah, 1422H.
Haekal, Muhammad Husein, Sejarah Hidup Muhammad, Pustaka Akhlaq, 2015.
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al Qur’an al Karim, Dar at Tiybah li an Nasyr wa at Tauzi’, 1999.
Al Khinani, Ali bin Ali, Islam tentang Perang dan Damai, Pustaka Nasional, Singapura, 1980.
Kholil, Munawar, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, Gema Insani Press, Jakarta, 2001.
Al Mubarakfury, Shafiyyur Rahman, Ar Rahiiq Al Makhtum, Robbani Press,Jakarta, 2002.
As Siba’iy, Mustafa, Sirah Nabawiyah, Durus wal Ibar, Dar al Kutub al Arabiyah, 1972.
As Suyuthi, Jalaludin, Lubab an Nuqul fii Asbab an Nuzul, Gema Insani Press, Jakarta, 2008.
Ath Thabary, Abu Ja’far, Tarikh Thabary, Dar at Turats, Beyrut, 1387H.
___________,  Jami’ul Bayan fii Ta’wil Al Qur’an, Muasasah ar Risalah, 2000.



[1] Batalyon adalah nama bagi kesatuan tentara berkekuatan 700-1000 personel.
[2] Muhammad Husein Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Pustaka Akhlaq, 2015, hal.392.
[3] Jalaludin As Suyuthi, Lubab an Nuqul fii Asbabin Nuzul, Gema Insani Press, Jakarta, 2008,hal.253-254.
[4] Muhammad bin Ismail Al Bukhary, Shahih Bukhary, Dar at Thuruq an Najah, 1422H, Juz 5, hal.73.
[5] Ali bin Ali Al Khinani, Islam tentang Perang dan Damai, Pustaka Nasional, Singapura, 1980, hal.38.
[6] Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury, Ar Rahiiq Al Makhtum, Robbani Press,Jakarta, 2002, hal.300.
[7] Abu Ja’far Ath Thabary,  Tarikh Thabary, Dar at Turats, Beyrut, 1387H, Juz 2, hal.447.
[8] Al Mubarakfury, loc.cit, hal.300.
[9] Abu Ja’far Ath Thabary, Jami’ul Bayan fii Ta’wil Al Qur’an, Muasasah ar Risalah, 2000, Juz 13.hal. 417.
[10] Ismail bin Umar ibnu Katsir, Tafsir al Qur’an al Karim, Dar at Tiybah li an Nasyr wa at Tauzi’, 1999, Juz 4, hal.18.
[11] Al Mubarakury, loc.cit, hal.300.
[12] Mustafa As Siba’iy, Sirah Nabawiyah, Durus wal Ibar, Dar al Kutub al Arabiyah, 1972, hal.100.
[13] Ibnu Katsir, op.cit, Juz 2, hal. 112.
[14] Abu Ja’far Ath Thabary,  ibid, Jilid 2, hal.453. Ia meriwayatkan banyak peristiwa serupa dalam kitabnya ini.
[15] Al Mubarakfury, op.cit, hal.311.
[16] Ali bin Ali Al Kinani, loc.cit, hal.38.
[17] Ibid, hal.39.
[18] Al Mubarakfury, op.cit, hal.287.
[19] Abu Ja’far Ath Thabary,op.cit,  JIlid 2, hal.436.
[20] Lihat; Ali bin Ali Al Khinani, op.cit, hal.40, Husein Haekal, op.cit, hal.396.
[21] Ali bin Ali Al Khinani, ibid, hal.41
[22] Munawar Kholil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, Gema Insani Press, Jakarta, 2001, Jilid 3, hal.14.
[23] Ibid, Jilid 3, hal.20.
[24] Ibid, Jilid 3, hal.20.

Friday, August 18, 2017

BANJIR BESAR


Do’a Nabi Nuh Mengadukan Perihal Ummatnya Kepada Allah
Maka ketika Nabi Nuh telah mengeluarkan semua kemampuan dan daya upayanya, namun kaumnya tidak mau mengambil petunjuk  yang dibawanya,  maka beliau bersimpuh di hadapan Allah mengadukan kedurhakaan kaumnya.
قال نوح رب إنهم عصوني واتبعوا من لم يزده ماله وولده إلا خسارا . ومكروا مكرا كبارا . وقالوا لا تذرن آلهتكم ولا تذرن ودا ولا سواعا ولا يغوث ويعوق ونسرا . وقد أضلوا كثيرا ولا تزد الظالمين إلا ضلالا . مما خطيئاتهم أغرقوا فأدخلوا نارا فلم يجدوا لهم من دون الله أنصارا . وقال نوح رب لا تذر على الأرض من الكافرين ديارا . إنك إن تذرهم يضلوا عبادك ولا يلدوا إلا فاجرا كفارا . رب اغفر لي ولوالدي ولمن دخل بيتي مؤمنا وللمؤمنين والمؤمنات ولا تزد الظالمين إلا تبارا .
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai-ku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar". Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa`, yaghuts, ya`uq dan nasr". Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang dzalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah. Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang dzalim itu selain kebinasaan". (QS Nuh[71] : 21-28). 
Nabi Nuh berdoa kepada Allah untuk melenyapkan orang kafir dari permukaan bumi, dan tidak menyisakan satu pun dari mereka. Karena jika ada yang tertinggal, maka mereka akan menyebarluaskan kesesatan dan perbuatan dosa.[1]
Nabi Nuh Membuat Kapal
Allah mengabulkan do’anya, dan memerintahkan Nabi Nuh untuk menyiapkan sarana untuk keselamatan kaumnya yang beriman, yaitu sebuah kapal yang cukup besar.
واصنع الفلك بأعيننا ووحينا ولا تخاطبني في الذين ظلموا إنهم مغرقون.
Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang dzalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS Huud [71] : 37)
فأوحينا إليه أن اصنع الفلك بأعيننا ووحينا فإذا جاء أمرنا وفار التنور فاسلك فيها من كل زوجين اثنين وأهلك إلا من سبق عليه القول منهم ولا تخاطبني في الذين ظلموا إنهم مغرقون
Lalu Kami wahyukan kepadanya : “Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan ‘tannur’ telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.(QS. Al-Mukminun [23]: 27)
Kapal itu dibuat berdasarkan wahyu dan petunjuk Allah swt. Maksudnya Allah mengajari Nabi Nuh teknik membuat kapal, karena peradaban manusia ketika itu belum dapat membangun kapal.[2]
Kontruksi utamanya tersusun oleh susunan kayu dari species pohon purba yg memang sudah tidak bisa ditemui lagi didunia ini alias sudah punah. Pengukuran obyek yang ditandai mempunyai altitude 7.546 kaki dengan panjang dari bahtera kurang lebih 500 kaki,83 kaki lebar,dan 50 kaki tinggi.[3] Ada juga Para Pengkaji berpendapat,”Noah Ark” berukuran lebih luas dari sebuah lapangan sepak bola.
Luas pada bagian dalamnnya cukup untuk menampung ratusan ribu manusia. Jarak dari satu tingkat ke satu tingkat lainnya ialah 12 hingga ke 13 kaki. Sebanyak kurang lebih ribuan sampai pulahan ribu balak kayu digunakan untuk membangunnya. [4]
Totalnya,terdapat kurang lebih ratusan ribu manusia dan hewan dari berbagai species yang ikut menaiki bahtera ini. Mengikuti kajian dari Dr.Whitcomb, kira2 terdiri 3.700 binatang mamalia, 8.600 jenis itik/burung, 6300 jenis reptilia, 2500 jenis amfibia yg menaiki The Great Noah Ark tersebut, sisanya adalah para kaum Nabi Nuh yang percaya akan ajaran yang dibawanya. Total berat kargo/muatan bahtera itu keseluruhan mungkin mencapai kurang lebih 24,300 ton.[5]
Allah melarang membicarakan perihal pembangunan kapal itu dengan orang-orang yang berbuat dosa dan kerusakan itu karena mereka itu akan ditinggalkan.[6] Dengan kata lain Allah melarang untuk berbelas kasihan kepada orang-orang kafir karena mereka akan ditenggelamkan.[7]
Pembuatan kapal inipun merupakan ujian kesabaran bagi Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman berasamanya, karena kota tempat tinggal Nabi Nuh dan kaumnya itu jauh dari sungai apalagi laut. Mereka mengatakan, “Apakah akan engkau tarik perahumu itu dengan lembu atau akan engkau terbangkan di udara?”[8]
Para pemimpin kaumnya mengatakan, “Wahai Nuh, kemarin engkau adalah nabi, dan sekarang engkau berubah menjadi tukang kayu?”[9] Mereka pun berkumpul dan bersama-sama mengejek pekerjaan Nabi Nuh dan orang-orang beriman.
Keadaan Dan Kronologi Banjir
Setelah Nabi Nuh selesai membuat kapal, tampaklah tanda-tanda akan datangnya adzab, yakni memancarnya air dari tanah. Allah memerintahkan Nabi Nuh mengumpulkan semua jenis tumbuhan dan hewan-hewan, masing-masing sepasang (jantan dan betina) untuk dibawa ke dalam kapal saat banjir besar tiba yang memusnahkan kehidupan, supaya bisa dijadikan bibit kehidupan lagi setelah banjir surut.
حتى إذا جاء أمرنا وفار التنور قلنا احمل فيها من كل زوجين اثنين وأهلك إلا من سبق عليه القول ومن آمن وما آمن معه إلا قليل .وقال اركبوا فيها بسم الله مجراها ومرساها إن ربي لغفور رحيم
Hingga apabila perintah Kami datang dan ‘dapur’(permukaan bumi yang memancarkan air hingga meneyebabkan timbulnya taufan) telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Huud [11]: 40-41)
Adapun maksud dari farwan at tanuur, menurut pandangan jumhur mufassirin adalah terbelahnya tanah di seluruh penjuru bumi, sehingga terpancarlah air dari padanya, itulah tanda bagi kaum mukminin menaiki kapal, karena akan segera terjadi taufan dan banjir.[10]
Kemudian Allah menurunkan hujan lebat yang belum pernah terjadi sebelumnya sehingga bertemulah air-air dari atas bumi dan dari dasar bumi.
ففتحنا أبواب السماء بماء منهمر . وفجرنا الأرض عيونا فالتقى الماء على أمر قد قدر . وحملناه على ذات ألواح ودسر.
Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. (QS. Al-Qamar[54]: 11-13)
Jadi banjir besar itu terjadi karena gabungan curah hujan yang amat deras dan pancaran air dari bumi yang terbelah di setiap penjurunya. Betapa besarnya jumlah debit airnya. Maka air menggenangi dataran tinggi apalagi yang rendah, menenggelamkan rumah-rumah dan bangunan. Manusia bingung kalang kabut berlarian mencari perlindungan tempat yang tinggi. Ada yang naik ke atap-atap, bukit-bukit atau pohon-pohon yang tinggi tapi semuanya tenggelam jua.
Isteri Dan Anak Beliau Termasuk Yang Dibinasakan
Tentang istri Nabi Nuh, Al-Qur’an telah menjadikannya sebuah perumpamaan bagi umat Islam di masa sekarang dan akan datang. Firman Allah SWT:
ضرب الله مثلا للذين كفروا امرأة نوح وامرأة لوط كانتا تحت عبدين من عبادنا صالحين فخانتاهما فلم يغنيا عنهما من الله شيئا وقيل ادخلا النار مع الداخلين
“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)". (QS. At-Tahrim [66]: 10).
Anak beliau pun, Kan’an yang akhirnya termasuk orang-orang kafir yang tenggelam. Padahal Nabi Nuh sudah berusaha memohon kepada Allah, agar anaknya diselamatkan. Namun Allah tidak memperkenankan doanya dan mengatakan bahwa ia (Kan’an) termasuk orang kafir. Allah melarang Nabi Nuh untuk memohon sesuatu permintaan kecuali dia yakin bahwa permintaannya itu baik dan benar. Hal ini diceritakan oleh Allah dalam Al-Qur’an:
ونادى نوح ربه فقال رب إن ابني من أهلي وإن وعدك الحق وأنت أحكم الحاكمين . قال يا نوح إنه ليس من أهلك إنه عمل غير صالح فلا تسألن ما ليس لك به علم إني أعظك أن تكون من الجاهلين . قال رب إني أعوذ بك أن أسألك ما ليس لي به علم وإلا تغفر لي وترحمني أكن من الخاسرين.
“dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku Termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya." Allah berfirman: "Hai Nuh, Sesungguhnya Dia bukanlah Termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan Termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." Nuh berkata: Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. dan Sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaKu, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaKu, niscaya aku akan Termasuk orang-orang yangmerugi." (QS. Hud [11]: 45-47).



[1] ‘Afif Abdul Fattah Thabarah, Ma’a al Anbiya’ fi Al Qur’an al Karim,Darul ‘Ilmi, Beyrut, 1981, h.68.
[2] Muhammad Ali Ash Shabuny, op.cit. h.141.
[3] http://risalahrasul.wordpress.com/2008/10/19/penemuan-kapal-nabi-nuh-as/
[4] Ibid.
[5] Ibid.
[6] Ibid, h.141.
[7] Afif Abdul Fattah Thabarah, op.cit, h.69.
[8] BeyArifin, op.cit, h.47.
[9] Muhammad Ali Ash Shabuny, op.cit, h. 141.
[10] Muhmmad Ali Ash Shobuny, Ibid,h.142.

Ilmu Sejarah dan Kegunaannya

1. Sejarah sebagai Ilmu

Sejarah dikatakan sebagai ilmu karena merupakan pengetahuan masa lampau yang disusun secara sistematis dengan metode kajian secara ilmiah untuk mendapatkan kebenaran mengenai peristiwa masa lampau. Sebagaimana dijelaskan Mohammad Nazir, sejarah adalah pengetahuan yang tepat terhadap apa yang telah terjadi. Sejarah adalah deskripsi yang terpadu dari keadaan-keadaan atau fakta-fakta masa lampau yang tertulis berdasarkan penelitian serta studi yang kritis untuk mencari kebenaran.[1]

Oleh karena itu, sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan harus dibuktikan secara keilmuan dengan menggunakan metode-metode dan berbagai standar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Kebenaran itu dapat dibuktikan dari dokumen yang telah diuji sehingga dapat dipercaya sebagai suatu fakta sejarah. Sejarah dianggap sebagai ilmu sebab sejarah memiliki syarat-syarat ilmu, antara lain ada masalah yang menjadi objek, ada metode, tersusun secara sistematis, menggunakan pemikiran yang rasional, dan kebenaran bersifat objektif.

Jika melihat hal tersebut, sejarah sebagai ilmu dapat memenuhinya, dikarenakan:  objek kajian sejarah ialah kejadian-kejadian di masa lalu yang merupakan sebab akibat; adanya metode sejarah yang menghubungkan bukti-bukti sejarah; kisah sejarah tersusun secara sistematis dan kronologis; kebenaran fakta diperoleh dari penelitian sumber yang disusun secara rasional dan kritik (penilaian) yang sistematis; fakta bersifat subjektif karena tiap orang melihat masa lampau dengan cara yang berbeda. Kebenaran hanya "milik" peristiwa ini sendiri.

2.  Kegunaan Sejarah

Dalam perspektif Al Qur’an kisah-kisah masa lampau yang diceritakan di dalamnya, mengandung ibrah  atau pembelajaran atau proses mengambil pelajaran yang baik dari sejarah orang-orang di masa lalu oleh orang-orang di masa kini.

لقد كان في قصصهم عبرة لأولي الألباب ما كان حديثا يفترى ولكن تصديق الذي بين يديه وتفصيل كل شيء وهدى ورحمة لقوم يؤمنون

Artinya:Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.  (QS Yusuf 111).

Di tengah masyarakat yang luas, sejarah mempunyai arti dan kegunaan sosial, yaitu memberi kegunaan edukatif (pelajaran), kegunaan yang menimbulkan inspirasi (ilham), dan fungsi rekreatif (rasa yang menyenangkan).

2.1. Kegunaan edukatif (sebagai pelajaran)

Mempelajari sejarah berarti belajar dari pengalaman yang pernah dilakukan masyarakat, baik pada masa sekarang atau masyarakat sebelumnya.[2] Keberhasilan di masa lampau akan dapat memberi pengalaman pada masa sekarang. Sebaliknya, kesalahan masyarakat di masa lampau akan menjadi pelajaran berharga yang harus diwaspadai di masa kini.

Bung Karno menjelaskan dalam Pidato beliau pada Hari Ulang Tahun Proklamasi VI[3] sebagai berikut,

Dari mempelajari sejarah orang bisa menemukan hukum-hukum yang menguasai kehidupan manusia. Salah satu hukum itu ialah : bahwa tidak ada bangsa bisa menjadi besar zonder kerja. Terbukti dalam sejarah segala zaman, bahwa kebesaran bangsa dan kemakmuran tidak pernah jatuh gratis dari langit. Kebesaran bangsa dan kemakmuran selalu “kristalisasi” keringat. Ini adalah hukum, yang kita temukan dari mempelajari sejarah.

Dengan belajar sejarah kita juga dapat berbuat bijaksana untuk menghadapi masa depan (ingat belajar sejarah akan bijaksana lebih dahulu). Maksudnya kesalahan pada masa lalu dapat dihindarkan dan kebaikan pada masa lalu dapat ditiru dan dimodifikasi untuk pengembangan. Oleh karena itu, belajarlah dari sejarah karena sejarah dapat mengajarkan kita apa yang telah dilakukan sebelumnya.

2.2. Kegunaan inspiratif

Berbagai kisah sejarah yang terjadi memberikan inspirasi bagi pembaca atau pendengarnya.[4] Kisah-kisah perjuangan yang membuahkan hasil setelah mengalami banyak kesulitan dan penderitaan, akan membangkitkan semangat generasi sekarang untuk berjuang dan percaya kepada hasil yang akan dicapainya. Begitu pula kisah-kisah kegagalan, memberikan peringatan untuk menghindarinya, mengevaluasi dan memodifikasinya menjadi keberhasilan.

2.3. Kegunaan rekreatif

Kisah-kisah sejarah dapat memberikan hiburan yang segar. Dengan gaya penulisan yang komunikatif sejarah dapat memberikan kesenangan. Maka pembaca sejarah berekreasi tanpa beranjak dari tempat. Karena bukan hanya terhibur oleh bacaan seperti membaca novel, pembaca sejarah juga dapat menyaksikan peristiwa-peristiwa yang telah lampau di tempat-tempat yang dekat dan yang jauh.[5]

Proses rekreasi terhadap berbagai peristiwa di masa lampau memungkinkan orang membuat perbandingan-perbandingan dari berbagai macam situasi dalam ruang dan waktu yang berbeda. Peristiwa lampau memang sudah berlalu, tetapi situasi masa kini adalah akibat dari situasi yang terjadi pada masa lampau.[6] Dengan demikian sejarah dapat membuat orang bercermin diri,  bukan hanya bagi dirinya tetapi juga bagi masyarakatnya.



[1] Mohammad Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Bogor, 2009, h. 48.
[2] Hariyono, Mempelajari Sejarah Secara Efaktif, op.cit, hal. 192.
[3] Ahmad Manshur Suryanegara, Menemukan Sejarah, op.cit, hal. 20.
[4] Hariyono, ibid, hal. 193.
[5] Hariyono, Ibid, hal.195.
[6] Hariyono, Ibid, hal.196.