Wednesday, March 1, 2017

DEFINISI AQIDAH


Secara bahasa, aqidah berasal dari perkataan bahasa arab yaitu kata dasar ‘aqada yang berarti ikatan pada tali dan semacamnya, fondasi bangunan, jual beli, perjanjian dan sumpah.[1]

Jika disebutkan al ‘aqdu, maka ia berarti sesuatu yang menjadi dasar dari suatu bangunan.[2] Makna lainnya dari al aqdu adalah al ‘ahdu, yaitu kesepakatan antara dua pihak yang mengikat kedua belah pihak untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kesepakatan itu, seperti pada perjanjian jual beli dan akad nikah.[3] Demikian pula pada perjanjian kerja, umpamanya dalam bidang ekonomi atau politik, maka aqdu mewajibkan seseorang untuk bekerja melayani seseorang lainnya dengan imbalan gaji atau upah.[4]

Maka al ‘aqidah adalah sebuah hukum atau kepastian yang tidak diterima adanya keraguan padanya bagi orang yang meyakininya. Dalam agama, maksudnya adalah keyakinan-keyakinan yang bukan perbuatan, seperti yakin kepada eksistensi Allah dan diutusnya rasul-rasul.[5]

Sedangkan secara istilah, aqidah menurut Hasan al-Banna adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa yang tidak bercampur sedikit dengan keraguan-raguan.[6] Sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan,atau dapat juga diartikan sebagai iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya serta tidak mudah terurai oleh  pengaruh manapun baik dari dalam atau dari luar diri seseorang.



[1] Ibrahim Mustafa, at.all, Al Mu’jam Al Wasith, (Istambul, Al Maktabah Al Islamiyah, lit Tiba’ah wan Nasyr wat Tauzi’, 1972), hal.613-614.
[2] Ibid.hal.614
[3] Ibid.hal.614.
[4] Ibid.614.
[5] Ibid.614.
[6] Hasan Al Banna, Majmu’atu Rosail Hasan Al Banna, terj. Khozin Abu Faqih & Burhan, Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, (Jakarta, I’tishom Cahaya Ummat, 2011), Jilid 2, hal.343.

BAHAYA MENINGGALKAN DAKWAH


1. Teks dan Sanad Hadits

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، أَنَّ زَيْنَبَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ، حَدَّثَتْهُ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ بِنْتِ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُنَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، دَخَلَ عَلَيْهَا فَزِعًا يَقُولُ: «لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ ، فُتِحَ اليَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ» وَحَلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا، قَالَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: «نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الخَبَثُ»[1]

2. Terjemah Hadits

Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhriy berkata, telah bercerita kepadaku 'Urwah bin Az Zubair bahwa Zainab binti Usamah bercerita keadanya bahwa Ummu Habibah binti Abu Sufyan bercerita kepadanya dari Zainab binti Jahsy bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk menemuinya dengan gemetar lalu bersabda: "Laa ilaaha illallah, celakalah bangsa Arab karena keburukan yang semakin dekat, hari ini telah dibuka benteng Ya'juj dan ma'juj". Beliau memberi isyarat dengan mendekatkan telunjuknya dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy berkata, Aku bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang shalih?". Beliau menjawab: "Benar, jika keburukan telah mewabah".(HR. Bukhari)

3. Takhrij hadits

Imam Al Bukhary meriwayatkan hadits ini dalam Shahihnya pada banyak tempat, yaitu pada bab Qishah Ya’juj wa Ma’juj,juz 4 halaman 138, bab ‘Alamatun Nubuwah fil Islam,juz 4, halaman 198, bab Qauli Nabi saw: Waylul al Arab min Syarr qod iqtaraba, juz 9 halaman 48 dan pada bab Ya’juj wa Ma’juj, juz 9 halaman 61.

Imam Muslim juga meriwayatkannya dalam Shahihnya, pada bab Iqtaroba al Fitan wa Fathu Radmi, juz 4 halaman 2207 dan 2208. Demikian pula Imam At Tirmidzy dalam Sunannya, yaitu pada bab Ma Ja’a ma’a Kharaja Ya’juj wa Ma’juj, juz 4 halaman 480. Juga Imam Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, bab Ma Yakunu min al Fitan, juz 2 halaman 1305.

4. Penjelasan Hadits dan Pelajarannya

  1. Sebagaimana melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar mengandung banyak kemaslahatan bagi umat manusia di dunia maupun di akhirat, maka begitu pula sebaliknya, meninggalkan amalan yang agung ini akan menimbulkan berbagai kerusakan yang dapat menghilangkan ketentraman dan kedamaian dalam kehidupan.
  2. Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqy menjelaskan bahwa jika kerusakan telah menyebar luas dan orang-orang melakukan maksiat dengan terang-terangan, sebagian ulama memaksudkan kerusakan itu dengan berzina secara terang-terangan, maka semua orang akan dibinasakan, meskipun di tengah-tengah mereka ada orang-orang shaleh.[2]

واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خآصة واعلموا أن الله شديد العقاب

‘’Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.’’ (Al-Anfal:25)

 

Dalam mengomentari hadits di atas, Syaikh Muhammad bin `Abdurrahmân al-Mubârakfûri rahimahullah berkata: “Dan memang seperti itu maknanya, jika manusia melarang orang yang berbuat maksiat, maka mereka semua akan selamat dari adzab Allah Ta’ala, dan sebaliknya, jika mereka membiarkan kemaksiatan, maka mereka semua akan ditimpa adzab dan akan binasa, dan ini adalah makna ayat (di atas).[3]

  1. Di antara tanda kerusakan merajalela tersebut adalah:

  • Maksiat merajalela, karena para pelaku maksiat dan dosa semakin bernyali untuk melakukan perbuatan nistanya.
  • Hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan, karena jarangnya ahli agama yang menyebarkan ilmu dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
  • Sikap diam orang-orang yang mampu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar akan membuat perbuatan tersebut menjadi baik dan indah di mata khalayak ramai, kemudian mereka pun akan menjadi pengikut para pelaku maksiat, dan hal ini adalah termasuk musibah dan bencana yang paling besar. 

  1. Diriwayatkan dari Qays bin Abu Hazim, di mana ia berkata, Aku mendengar Abu Bakar ra berkata: Sesungguhnya kalian membaca ayat ini:

يا أيها الذين آمنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل إذا اهتديتم إلى الله مرجعكم جميعا فينبئكم بما كنتم تعملون

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS Al Ma’idah: 5).

Sesungguhnya Aku mendengar bahwa Rasulullah bersabda:

وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا، ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوا، إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ

“Sesungguhnya jika manusia melihat seseorang melakukan kedzaliman, kemudian mereka tidak mencegah orang itu, maka ALLAH akan meratakan adzab kepada mereka semua. (HR. Abu Dawud).[4]

 

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ketika beliau ditanya tentang ayat tersebut di atas, beliau menjawab, “Saat ini bukanlah saat yang seperti itu. Akan tetapi saat itu nanti adalah manakala hawa nafsu telah menguasai jiwa dan orang-orang suka berdebat kusir, maka pada saat itu masing-masing orang akan menginterpretasikannya.[5]



[1] Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al Bukhary al Ja’fy, op.cit, Juz 4, hal.134.
[2] Imam Muslim, op.cit, juz 4, halaman 2207.
[3] Maer el Amien, Bahaya Meninggalkan Dakwah (http://maer-elamien.blogspot.com/2013/01/hadist-dakwah-makalah-maerelamien.html), 6/11/2014, 8:45 wib.
[4] Abu Dawud, op.cit, Juz 4, hal.122.
[5] Nashr bin Muhammad bin Ibrahim, Abu Laits As Samarqandy, Tanbihul Ghafilin, alih bahasa Muslich Shabir, Karya Toha Putra, Semarang, 2005, hal.148.

Tuesday, January 31, 2017

Pahala yang Besar bagi Orang yang Berdakwah


Oleh Wahyu Bhekti Prasojo

1. Teks dan Sanad Hadits

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيزِ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ» ، قَالَ: فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوكُونَ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَاهَا، فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّاسُ غَدَوْا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَرْجُو أَنْ يُعْطَاهَا، فَقَالَ: «أَيْنَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ» . فَقَالُوا: يَشْتَكِي عَيْنَيْهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «فَأَرْسِلُوا إِلَيْهِ فَأْتُونِي بِهِ» . فَلَمَّا جَاءَ بَصَقَ فِي عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ، فَبَرَأَ حَتَّى كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ، فَأَعْطَاهُ الرَّايَةَ، فَقَالَ عَلِيٌّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا؟ فَقَالَ: «انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللَّهِ فِيهِ، فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ»[1]
2. Terjemah Hadits
Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu’anhu, suatu ketika dalam peperangan Khaibar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Sahl berkata: Maka di malam harinya orang-orang pun membicarakan siapakah kira-kira di antara mereka yang akan diberikan bendera itu. Sahl berkata: Ketika pagi harinya, orang-orang hadir dalam majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing dari mereka sangat mengharapkan untuk menjadi orang yang diberikan bendera itu. Kemudian, Nabi bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?”. Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, dia sedang menderita sakit di kedua matanya.” Sahl berkata: Mereka pun diperintahkan untuk menjemputnya. Kemudian, dia pun didatangkan lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammeludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya maka sembuhlah ia. Sampai-sampai seolah-olah tidak menderita sakit sama sekali sebelumnya. Maka beliau pun memberikan bendera itu kepadanya. Ali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah saya harus memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita?”. Beliau menjawab, “Berjalanlah dengan tenang, sampai kamu tiba di sekitar wilayah mereka. Lalu serulah mereka untuk masuk Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki onta-onta merah.” (HR. Bukhari)
3. Takhrij Hadits 
            Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhary dalam Shahihnya yaitu pada Bab ManaqibAli bin Abi Thalib, juz 5 halaman 18 dan pada bab Gazwatu Khaybar, juz 5 halaman 134. Imam Muslim juga meriwayatkannya dalam Shahihnya pada bab Min Fadhail Ali bin Abi Thalib, juz 4 halaman 1872.
Adapun Sahl bin Sa’ad bin Malik bin Khalid Al Anshari Al Khadzraji As Sa’idi Abul ‘Abbas, beliau dan ayah beliau merupakan shahabat yang masyhur, banyak dikenal. Meninggal pada tahun 88 H, ada yang mengatakan setelah tahun tersebut, ada pula yang mengatakan pada tahun 100 H.[2]
4. Penjelasan Hadits dan Pelajarannya
a.       Pada peperangan Khaybar, gerak pasukan Islam tertahan karena kuatnya perbentengan Khaybar itu. Sehingga pada suatu malam yaitu malam ke tujuh, Rasulullah mengatakan akan menyerahkan kepemimpinan pasukan kepada orang yang akan memenangkan pertempuran. Orang itu adalah Ali bin Abi Thalib.[3]
b.      Hadits ini menjelaskan kebenaran Nubuwah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yaitu : kaum muslimin menang dalam pertempuran itu dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib yang mulanya sakit mata, lalu sembuh seketika oleh ludah Rasulullah.
c.       Meskipun dalam peperangan, Rasulullah tetap memerintahkan mengutamakan sikap kelembutan terhadap orang-orang yang dihadapi. Karena menginginkan mereka bisa menerima ajakan dakwah dan petunjuk ke jalan yang benar.
d.      Hadits ini menjelaskan keutamaan dakwah kepada Allah Ta’ala, yaitu bahwasanya menunjuki seseorang kepada Islam jauh lebih baik pahalanya daripada harta dan perbendaharaan dunia yang paling baik sekalipun, yang dalam hadits tersebut diungkapkan dengan unta merah. Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqy menjelaskan bahwa onta merah oleh kaum Quraisy digunakan untuk mengungkapkan harta benda yang paling berharga, karena tidak ada lagi onta yang lebih mahal darinya.[4]
Keutamaan dakwah ilallah amatlah banyak, tersebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah, diantaranya : Allah Ta’ala berfirman, 
والعصر إن الإنسان لفي خسر إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr :1-3).
Maka orang-orang yang beruntung ialah mereka yang beriman kepada Allah baik sebagai Rabb Pencipta alam semesta, maupun sebagai Ilah yang berhak diibadahi semata, dan beramal shalih yaitu amal yang dikerjakan ikhlas karena Allah semata, dan sesuai dengan petunjuk Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian bersegera dalam menyempurnakan dan memperbaiki orang lain dengan menyeru manusia kepada al haq, yaitu setiap yang disyariatkan oleh Allah, kemudian bersabar di atas al haq tersebut, baik bersabar ketika mengerjakan ketaatan, bersabar dalam menjauhi keburukan, dan bersabar ketika ditimpa musibah.[5]
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا[6]
Artinya, Dari Abu Hurayrah, bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala semisal dengan orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang diperoleh orang tersebut. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa orang itu sedikitpun” (HR. Muslim).



[1] Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al Bukhary al Ja’fy, Shahih Bukhary, Dar at Tuqa an Najah, 1422H, Juz 5, hal. 18.
[2] Ali bin Yahya Al Haddadi, Ta’liqat ‘ala Arba’ina Haditsan fi Manhajis Salaf, alih bahasa Yhouga Ariesta (http://muslim.or.id/manhaj/keutamaan-dakwah-ilallah.html), diakses pada 6/11/2014, 7:45 wib.
[3] Munawar Khalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, Gema Insani Press, Jakarta, 2001, Jilid 4, hal.144.
[4] Muslim, op.cit, Juz 4, hal. 1872.
[5] Ali bin Yahya Al Haddadi, Ta’liqat ‘ala Arba’ina Haditsan fi Manhajis Salaf, alih bahasa Yhouga Ariesta (http://muslim.or.id/manhaj/keutamaan-dakwah-ilallah.html), diakses pada 6/11/2014, 7:45 wib.
[6] Muslim, op.cit, Juz 4, hal.2060.

Monday, January 9, 2017

Imam Ahmad dan Istighfar

Imam Ahmad bin Hambal Rahimakumullah (murid Imam Syafi'i) dikenal juga sebagai Imam Hambali. Dimasa akhir hidupnya beliau bercerita;

Suatu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada keperluan.

Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita;
Begitu tiba disana waktu Isya', saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.

Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya; "Kamu mau ngapain disini, syaikh?."

----------- Penjelasan -------------

Kata "syaikh" bisa dipakai untuk 3 panggilan:
1⃣bisa untuk orang tua, 2⃣orang kaya ataupun 3⃣orang yg berilmu.
Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena marbot taunya sebagai orang tua.
---------------------------------

Marbot tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.

Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar & ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih & zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tau wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.

Imam Ahmad menjawab, "Saya ingin istirahat, saya musafir."
Kata marbot, "Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid."

Imam Ahmad bercerita,
"Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikuncinya pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid."

Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. "Mau ngapain lagi syaikh?"_ Kata marbot.
"Mau tidur, saya musafir"_ kata imam Ahmad.

Lalu marbot berkata;
"Di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh."_ Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, _"saya didorong-dorong sampai jalanan."

Disamping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat & menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi.

Ketika imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh; "Mari syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil."

Kata imam Ahmad, "Baik". Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yg sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti ini punya perilaku khas, kalau imam Ahmad ngajak bicara, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil *(terus-menerus)* melafalkan *ISTIGHFAR.* _"Astaghfirullah"_

Saat memberi garam, _astaghfirullah_, memecah telur_astaghfirullah_ , mencampur gandum _astaghfirullah_ . Dia senantiasa mengucapkan _istighfar_. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

Lalu imam Ahmad bertanya, _"sudah berapa lama kamu lakukan ini?"_

Orang itu menjawab;
"Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan."

Imam Ahmad bertanya;
"Apa hasil dari perbuatanmu ini?"

Orang itu menjawab;
"(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat/keinginan yg saya minta, kecuali PASTI dikabulkan Allah. semua yg saya minta ya Allah...., langsung diwujudkan."

Rasulullah
 صلى الله عليه وسلم
pernah bersabda;

"Siapa yg menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yg tidak disangka-sangkanya."

Lalu orang itu melanjutkan, "Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yg belum Allah beri."

Imam Ahmad penasaran lantas bertanya;
"Apa itu?"

Kata orang itu;
"Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan imam Ahmad."

Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, _"Allahu Akbar..! *Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan - sampai didorong-dorong oleh marbot masjid - Sampai ke jalanan ternyata karena ISTIGHFARMU."*

Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yg didepannya adalah Imam Ahmad.

Ia pun langsung memeluk & mencium tangan Imam Ahmad.

(SUMBER: Kitab Manakib Imam Ahmad)

Saturday, December 24, 2016

Dakwah adalah Jalan Pembuktian Cinta

Oleh Wahyu B. Prasojo
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

"...adapun orang-orang beriman amat sangat cintanya kepada Allah...(Al Baqarah:165)

Kecintaan seseorang kepada Allah wajib ada di atas segala bentuk kecintaannya kepada selain-Nya, karena cinta Allah adalah dasar dari agama Islam ini, dengan sempurnanya cinta ini pada hati seseorang, menjadi sempurna pula keimanannya, dan sebaliknya, dengan berkurangnya kadar kecintaan seseorang kepada Allah, akan berkurang pula keimanannya.

Sebagaimana penjelasan Imam Ibnul Qoyyim bahwa dasar cinta terpuji yang Allah Ta’ala perintahkannya dan Allah ciptakan makhluk karenanya adalah mencintai Allah semata, tiada sekutu baginya. Cinta Allah mengandung peribadahan kepada-Nya semata dan tidak menyembah selain-Nya, karena sesungguhnya ibadah mengandung puncak cinta diiringi dengan puncak perendahan diri. Sikap ini tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah Azza wa Jalla semata”

Imam Al Ghazali menjelaskan, adapun kecintaan kepada Allah akan melingkupi (mencelup) hati, kecintaan ini membimbing hati dan bahkan merambah ke segala hal.

Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan, ada yang berpendapat, arti cinta yang hakiki ialah menyerahkan apapun yang ada pada dirimu kepada orang yang di cintai, sehingga tak ada lagi yang menyisa.

Cinta sejati memiliki tanda-tanda. Kasih sayang yang tulus menuntut bukti-buktinya. Adalah seorang wanita dari keturunan Bani Dinar. Saat suami, ayah, saudara laki-lakinya pergi ke medan Uhud lalu mereka semua mati syahid di jalan Allah, berita kematian mereka pun sampai kepadanya. Lalu wanita itu memandang Rasulullah kemudian mengatakan: “musibah apapun selainmu adalah kecil”

Ibnul Qoyyim juga menjelaskan bahwa cintalah yang menggerakkan orang yang mencintai sesuatu mencari sesuatu tersebut. Maka orang yang mencintai Allah dengan benar dan baik, akan tergerak untuk mencari perkara yang dicintai oleh Allah pada setiap ucapan maupun perbuatannya. Lahirnya maupun batinnya akan ia pantau terus agar sesuai dengan kecintaan dan keridhaan Rabbnya. Inilah yang kita fahami sebagai definisi ibadah.

Perkara yang dicintai oleh Allah terdapat dalam syari’at-Nya yang dibawa oleh Rasul-Nyashallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai Allah yang benar adalah dengan mengikuti Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Katakanlah (Muhammad) jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah oleh kalian akan aku. Maka Allah akan mencintai kalian..."(Ali Imran:31)

Mengikuti jalan hidup Rasulullah berarti menempuh jalan dakwah. Ia adalah wujud dan bukti cinta. Maka sahabat Rasulullah, Abdullah bin Mas'ud ra berpesan, "jadilah kalian sumber mata air ilmu; lampu-lampu (cahaya) petunjuk yang menetap di rumah rumah; pelita di waktu malam yang hatinya selalu baru, yang kusut pakaiannya, dan dikenal oleh penduduk langit, tetapi tersembunyi dari penduduk bumi.

Ustadz Rahmat Abdullah pernah berpesan, dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai. Menyedot saripati energimu. Sampai tulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Muhammad Idris asy Syafi'iy memperingatkan, "Lalu, jika kalian sudah berada di jalur menuju Allah, maka berlarilah.
Jika itu sulit bagimu, maka berlari kecillah.
Jika engkau lelah, maka berjalanlah. Namun jangan pernah berbalik arah atau berhenti".
Wallahu'a'lam bishawwab.

Friday, December 9, 2016

Hadits Dakwah : Agama adalah Nasihat


oleh wahyu bhekti prasojo
1. Teks dan Sanad Hadits

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ الْمَكِّيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ: قُلْتُ لِسُهَيْلٍ: إِنَّ عَمْرًا حَدَّثَنَا عَنِ الْقَعْقَاعِ، عَنْ أَبِيكَ، قَالَ: وَرَجَوْتُ أَنْ يُسْقِطَ عَنِّي رَجُلًا، قَالَ: فَقَالَ: سَمِعْتُهُ مِنَ الَّذِي سَمِعَهُ مِنْهُ أَبِي كَانَ صَدِيقًا لَهُ بِالشَّامِ، ثُمَّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ سُهَيْلٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ»[1]

2. Terjemah Hadits
Dari Tamiim ad Dariy ia berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam : Sesungguhnya Agama adalah Nasihat. Kami berkata: Bagi siapa wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Bagi Allah dan kitabNya, dan RasulNya, bagi para pemimipin ummat Islam dan seluruh kaum muslimin.(HR. Muslim)
3. Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dari riwayat Suhayl bin Abu Shalih dari Atha’ bin Yazid Al Laitsi dari Tamim Ad Dariy. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim pada Bab Bayan ana al Diin an Nashihah. Imam An Nawawi berkata, “Dalam Shahih Bukhory tidak ada hadits ini, sedangkan pada Shahih Muslim hanya pada bab ini, tidak ada pada tempat lainnya.[2]
Hadits ini juga diriwayatkan Imam At Turmudzy dari jalur Suhayl dari Abu Shalih dari Abu Hurayrah.[3] Sebagian ulama menshahihkan kedua jalur tersebut, tetapi ada ulama yang hanya menshahihkan yang dari jalur Tamim Ad Dariy.[4]
Imam Abu Dawud juga meriwayatkan hadits ini dalam Sunannya, Bab Fi an Nashihah, Juz 4 halaman 286, hadits nomor 4944. Syaikh Al Albany menshahihkannya.[5] Demikian pula oleh Imam An Nasa’iy dalam Sunan An Nasa’iy, yaitu pada Bab An Nashihah lil Imam, juz 7 halaman 156. [6]
Adapun Tamim Ad Dariy adalah salah seorang Sahabat Nabi saw, yang banyak melakukan sholat tahajjud. Beliau masuk Islam pada tahun ke 9 H. Pasca terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan ra, beliau pindah ke Syam dan menetap di Palestina hingga wafatnya pada tahun 40 Hijriyah.[7]
4. Penjelasan Hadits dan pelajaran
a.       Nashihat adalah ucapan yang dimaksudkan untuk perbaikan.[8]Nabi saw menjelaskan bahwa agama adalah nasihat. Ini menunjukkan bahwa nasihat itu mencakup seluruh bagian-bagian Islam, Iman dan Ihsan seperti dijelaskan dalam hadits Jibril, dan beliau menyebutnya sebagai agama.[9] Sedangkan maksud dari Agama adalah Nashihat dalam hadits ini adalah bahwa tiang yang menegakkan agama adalah nasihat.[10] Ini adalah bentuk kalimat yang menjelaskan pentingnya sebuah amal di antara amal-amal yang lain, dalam sebuah proses yang besar, seperti perkataan Nabi yang lainnya, haji adalah ‘arofah. Yakni tiang dan hal utama dalam haji adalah wukuf di Arofah.[11]Imam Abu Sulayman Al Khataby mengatakan, “Nasihat adalah kata yang menjelaskan sejumlah hal, yaitu yang menginginkan kebaikan kepada orang yang diberi nasihat. Asal kata nasihat menurut bahasa ialah murni. Nashahtu al Asala, maksudnya engkau memurnikan madu tersebut dari lilin.”[12] Abu Amr bin Ash Shalah berkata, “Nasihat adalah kata universal yang mencakup pengerjaan oleh pemberi nasihat terhadap sejumlah kebaikan; dalam bentuk keinginan dan amal perbuatan, untuk pihak penerima nasihat.”[13]
b.      Nasihat untuk Allah ialah mentauhidkanNya, mensifatiNya dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan, membersihkanNya dari apa saja yang berlawanan dan menyalahi sifat-sifatNya, menjauhi maksiat, ta’at dan cinta kepadaNya dengan ikhlas, mencintai dan membenci karenaNya dan mendorong manusia berjihad di jalanNya.[14] Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqy menambahkan bahwa nasihat kepada Allah pada hakikatnya adalah seorang hamba menasihati jiwanya sendiri karena Allah tidak membutuhkan nasihat.[15]
c.       Adapun nashihat bagi kitab Allah adalah beriman kepadanya, mengagungkan dan membersihkannya, membacanya dengan bacaan yang benar, memikirkan perintah dan larangannya, memahami ilmu, mengkaji ayat-ayatnya, mengajak manusia kepadanya dan membelanya dari pelecehan orang kafir dan yang melampaui batas.[16]
d.      Sedangkan nashihat bagi Rasulullah saw adalah membenarkan risalahnya dan beriman kepada semua yang dibawanya, hormat dan patuh kepada beliau. Menghidupkan sunnah beliau dan menyebarkannya.[17]
e.       Nasihat bagi pemimpin kaum muslimin adalah menolong mereka dalam kebenaran dan mematuhi mereka karena kebenaran dan mematuhi kebenaran yang mereka perintahkan, mengingatkan mereka kepada kebenaran, menasihati mereka dengan santun, tidak menyerang mereka serta mendoakan mereka.[18] Adapun yang dimaksud pemimpin kaum muslimin adalah para Khalifah dan yang lainnya yang mengurusi kaum muslimin, yang memegang wewenang.[19]
f.       Adapun nashihat bagi kaum muslimin secara umum membimbing mereka kepada kemaslahatan dunia dan akhirat mereka. Mengajari mereka dalam urusan dunia dan akhirat, menutup aurat mereka, menolong dan membela mereka, mencintai kebaikan bagi mereka dan lain-lain.[20]
g.      Nashihat adalah Islam itu sendiri. Di mana, Islam dilakukan melalui ucapan dan perbuatan.[21] Maka saling menasihati adalah hal penting yang mengokohkan bangunan masyarakat Islam. Mengenai pentingnya nasihat beberapa Ulama’ menjelaskan tentang nashihat[22]:
Hasan Al Bashry berkata, bahwa beberapa sahabat Nabi pernah berkata, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang menyebabkan Allah mencintai hambaNya, menyebabkan hamba cinta kepada Allah, dan menyebarkan nashihat di muka bumi.”
Abu Bakar al Mazny berkata, “Yang menjadikan Abu Bakar lebih tinggi derajatnya dibanding sahabat-sahabat lainnya bukanlah puasa atau sholat. Akan tetapi karena sesuatu yang ada dalam hatinya, yaitu kecintaan kepada Allah dan nashhat terhadap makhluqNya.”
Fudhail bin Iyadh berkata, “Orang yang berjumpa kami tidak melihat kami banyak sholat dan puasa, namun ia melihat kami karena murah hati, lapang dada dan suka memberi nashihat kepada ummat.”


[1] Muslim bin Hajjaj Abul Hasan Al Qusyairy An Naysabury, Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fu’ad Abdul Baqy, Darul Ihya at Turats Al Araby, Beyrut, Juz 1, hal 74.
[2] Musthofa Dieb al Bugho & Muhyidin Misthu, Al Wafiy, Syarah Kitab Arba’in An Nawawiyah, alih bahasa Muhil Dhofir, Al I’tishom, Jakarta, 2013, hal.38.
[3] Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin Ad Dhahak At Turmudzy, Sunan At Tirmidzy, Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthafa Al Baaby Al Halaby, Mesir, 1975, Juz 4, hal 324.
[4] Zaynudin Abdurrahman bin Ahmad ad Dimasyqi Al Hambali, Ibnu Rajab, Jami’ul Ulum wal Hikmah, alih bahasa Fadhli Bahri, Darul Falah, Jakarta, 2011, hal.165.
[5] Abu Dawud Sulayman bin Asy’ats Al Azdy As Sijistany, Sunan Abu Dawud, tahqiq Muhammad Muhyidin Abdul Hamid, Al Maktabah Al ‘Ashriyah Shida Beyrut, Juz 4 hal.286.    
[6] Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu’ayb ‘Ali al Khurasany an Nasa’iy, Sunan An Nasa’iy, tahqiq Abdul Fattah abu Ghuddah, Maktab Al Mathbu’at Al Islamiyah, Halab, 1986, Juz 7, hal.156.
[7] Musthofa Dieb al Bugho & Muhyidin Misthu, op.cit, hal.428.
[8] Ibid, hal.39.
[9] Ibnu Rajab, op.cit, hal.169.
[10] Muslim bin Hajjaj Abul Hasan Al Qusyairy An Naysabury, loc.cit, juz 1, hal.74.
[11] Muslim, ibid.
[12] Ibnu Rajab, op.cit, hal.170.
[13] Ibid, hal. 173.
[14] Ibid, hal. 173.
[15] Muslim, loc.cit.
[16] Ibnu Rajab, loc.cit.
[17] Ibid, hal. 173.
[18] Ibid, hal.173.
[19] Muslim, loc.cit.
[20] Ibnu Rajab, loc.cit.
[21] Musthofa Dieb al Bugho & Muhyidin Misthu, op.cit, hal.44.
[22] Ibnu Rajab, op.cit, hal.175.